Defi dan Sepatu Kayunya

Dahulu kala di sebuah desa di Jawa, hiduplah seorang anak yatim piatu bernama Defi. Ia tinggal di rumah bibinya. Walau kaya, bibinya itu sangat kikir dan galak. Defi harus bekerja keras tanpa mendapat makanan dan pakaian yang cukup. Bahkan, Defi terpaksa harus memakai baju musim panasnya di saat musim dingin.

Menjelang Lebaran, hati Defi sangat sedih dan kesepian. Semua anak laki-laki seumurnya memakai topi bulu baru, jas hujan tebal, dan baju-baju hangat yang bagus. Sementara Defi hanya memakai sepasang kaos kaki berlubang dan sepasang sepatu yang tua. Teman-teman Defi juga bercerita tentang hadiah lebaran yang mereka terima.

Defi menceritakan semua itu pada bibinya. Namun, “Masih untung sepatu kayumu belum pecah. Kau juga harus bersyukur karena tidak ada paku di kaos kakimu!” komentar bibinya ketus. Defi menangis dalam hati mendengar jawaban itu. Ketika malam lebaran tiba, Defi pergi ke mesjid bersama temannya. Takbiran di malam lebaran yang dinyanyikan paduan suara terdengar sangat merdu di telinga Defi. Lampu-lampu di malam itu berwarna putih bergoyang karena tiupan angin. Bagaikan rombongan malaikat yang sedang menari, memuji nama Allah. Suasana mesjid sangat hangat dan menyenangkan. Untuk beberapa waktu Defi lupa akan kemiskinan dan kesedihan hatinya.

“Ah, andai aku bisa memberi hadiah pada seseorang di malam Lebaran ini…” pikir Defi saat mendengat takbiran. Sayang sekali ia tak punya apapun untuk diberikan pada orang lain. Akhirnya sholat lebaran pun selesai. Defi keluar dari mesjid. Di depan mesjid di berjalan mondar-mandir mencari akal. Setelah beberapa saat, ia lalu melangkah menyusuri jalan setapak mesjid.

Tiba-tiba ia melihat seorang anak kecil tergeletak di depan masjid itu. Wajah anak itu sangat pucat karena udara yang dingin. Defi melihat ke sekeliling. Kalau-kalau ada orang dewasa yang bisa dimintai pertolongan. Tetapi jalan itu sepi. Defi tak bisa membiarkan anak itu mati kedinginan.

“Apa yang harus kulakukan?” pikir Defi. “Mungkin Malaikat akan menolongnya bila kulepas sepatuku dan kuletakkan di dekat anak itu.” Defi lalu melepas sebuah sepatu kayunya. Dan meletakkannya di dekat anak kecil itu. Ia percaya pada cerita yang pernah didengarnya. Bahwa Malaikat akan datang dan memberi hadiah ke rumah anak yang baik di malam Lebaran. Defi lalu berlari pulang. Dalam perjalanan ia berpikir, hukuman apa yang akan diterimanya dari bibinya yang kejam.

Setibanya di rumah, Defi langsung kena marah. “Dimana sepatumu yang sebelah?” Defi menceritakan pengalamannya, lalu berkata, “Aku tidak bisa memberikan sesuatupun pada anak itu.” “Karena lancang, kau tidak akan mendapat makan malam!” bentak bibinya lagi. “Tapi sebelum tidur, letakkan sepatumu yang tinggal sebelah itu di dekat perapian. Malam nanti Malaikat akan mengisinya dengan paku dan jarum. Supaya kau jera!”

Tanpa membantah Defi melakukan perintah bibinya. Ia lalu masuk ke kamarnya yang sempit. Dan membaringkan tubuhnya di kasur yang dingin. Matanya sulit dipejamkan karena lapar dan sedih. Namun akhirnya ia tertidur juga. Defi tiba-tiba terbangun, ia tak tahu berapa lama ia tertidur. Dari arah dapur terdengar suara bibinya memanggil, membangunkannya. Aneh! Suara bibinya terngar ramah dan riang. Defi segera melompat dari tempat tidur dan bergegas ke dapur. Ooh! Ia hampir tak percaya. Di dekat tungku api, Defi melihat sepasang sepatu kayu yang masih baru. Di lantai di sekitar sepatu itu penuh dengan mainan bagus dan hadiah lain yang diimpikan setiap anak perempuan di dunia.

“Dari mana semua ini?” tanya Defi. Matanya terbelalak heran dan bahagia. Tiba-tiba, terdengarlah suara lirih dan merdu, “Akulah anak kecil yang kau tolong itu. Terimalah hadiah lebaran dariku, dan bersukacitalah!” Defi memandang ke sekeliling. Tak ada seorangpun yang terlihat. Maka tahulah Defi, malaikat telah datang dan berbicara padanya. Defi terkejut ketika bibinya memeluknya sambil meneteskan air mata.

“Mulai saat ini aku akan menyayangimu, Defi,” bisik bibinya. Defi pun berjanji akan menjadi anak yang baik. Akhirnya, Lebaran tahun itu menjadi Lebaran yang terindah bagi Defi dan bibinya.

http://arsel.blogsome.com/category/dongeng-anak/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: